Monday, May 20, 2013

The Princess and The Frog


Temen2 pembaca pernah denger dongeng "The Frog Prince"? Tentang seorang pangeran yg dikutuk jadi seekor kodok dan hanya akan bisa kembali menjadi pangeran di saat ia menemukan seseorang yg benar2 mencintainya? Kesannya indah banget ya, tapi pada kenyataannya, jaman sekarang siapa sih yg rela jatuh cinta sama seekor kodok?

Tema tersebut pernah diangkat dalam sebuah film buatan Disney "The Princess and The Frog". Ceritanya dibuat berdasarkan dongeng "The Frog Prince", hanya saja di film ini, pada akhirnya bukan si kodok yg kembali menjadi pangeran, tapi si cewenya yg ikutan jadi kodok. Nah lho! Tapi apakah hal itu masalah untuk si cewenya? Ngga, karena ia sungguh2 mencintai si kodok, dan kini meskipun mereka berdua menjadi kodok, yg penting mereka tetap bisa bersatu dalam cinta.

Walaupun di extended version, pada akhirnya mereka menemukan cara untuk kembali jadi manusia


Tapi gua yakin, kalo kejadiannya seperti itu, jaman sekarang pasti banyak orang yg ga terima…

Jaman sekarang terlalu banyak orang yg mencintai dengan syarat…
Gua ga suka sama si A karena dia gendut.
Kita deket, dia baek, tapi gua gantungin si B karena ternyata keluarganya miskin.

Dan lain sebagainya…

Banyak orang yg lupa bahwa…sang kodok baru bisa jadi pangeran apabila ia menemukan orang yg sungguh2 mencintainya. Jadi kalo lu pengen dia jadi pangeran dulu, baru mau mencintai dia, well, hal itu ga akan terjadi.

If you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best. - Marilyn Monroe.


Udah terlalu sering gua denger kisah tentang seorang cewe yg menjebloskan "sahabat cowo terbaiknya" ke dalam "Friendzone" hanya karena si cewe takut kehilangan satu2nya tempat pelarian di kala hubungan cintanya tidak berjalan mulus. Kesannya konyol banget, I know, but it happens, A LOT. Si cewe tidak menyadari bahwa dengan menolak ngambil resiko, ia justru mengambil resiko yg lebih besar yaitu kehilangan si "sahabat baik" itu untuk selama2nya di saat sang sahabat menemukan cewe yg mencintai dia dan rela mengambil resiko untuk pacaran ma dia. (Bukan bermaksud memojokkan kaum hawa lho ya, ini cuma contoh kasus aja.)

Hidup itu segalanya ditentukan oleh pilihan, kawan. Dan kadang pilihan yg paling aman bukanlah pilihan yg terbaik untuk jangka panjang. Di usia serempat abad ini, dari semua pengalaman yg pernah gua alami, gua bisa berkata bahwa di dalam hidup kelak kita akan lebih sering mendapati diri kita menyesali resiko yg tidak pernah kita ambil ketimbang kegagalan yg kita alami di saat kita memilih untuk mengambil pilihan resiko.

Kenapa seseorang itu jomblo? Ga usah jauh2 cari pembenaran atau alasan, karena pada intinya semua kembali kepada satu hal ini : KURANG BERUSAHA. Kalo jomblo, ya jangan terus2an nongkrong di depan komputer dan ngegalau di dunia maya. Pergi sana ke luar rumah, cari kenalan sebanyak2nya. Manusia dilahirkan berbeda dengan tumbuhan, kita diberikan akal dan kemampuan untuk mengubah nasib kita. Masalahnya, kitanya mau berusaha berubah atau ngga?

Kalo ngerasa orang2 di sekeliling lu ga ada yg potensial buat jadi pacar, itu tandanya lu harus memperluas pergaulan. Kalo lu ngerasa diri lu kurang menarik makanya ga ada yg mau, ya berusahalah lebih keras. Belajar yg rajin, punya target atau impian, tingkatkan rasa percaya diri, olahraga, dll. Kalo lu udah sering pacaran tapi ngerasa ga pernah cocok sama pasangan, itu tandanya standar lu terlalu tinggi. Coba belajar ngalah dan toleransi sedikit, jangan terus menerus berharap untuk mengubah sang pasangan. Dan lain sebagainya...


Hidup cuma sekali dan tentunya setiap orang ingin menemukan pasangan yg "sempurna", pemikiran itu tidak salah. Tapi jangan lupa, mencari pasangan sempurna tuh bukan seperti bikin kopi bubuk instant. Cinta itu butuh proses dan kesempurnaan dan keserasian baru dapat tumbuh setelah melalui proses bersama2.

Bisa aja sekarang lu nemuin cowo yg super tajir, punya BMW, badan bagus akibat sering fitness, dll…tapi ntar setelah married ternyata lu baru tau kalo dia ternyata ga pinter cari duit akibat dari muda dimanja duit ortunya. Niatnya pengen cari pangeran, ternyata dapetnya malah pangeran cecunguk. Sial banget itu judulnya, udah jatuh ketimpa BMW, BMW nya punya orang laen tapinya. Pedih.

Sama halnya dengan para cowo. Jangan bangga dulu di saat kalian punya pacar cantik dan seksi laksana model majalah. Suatu hari nanti, yg namanya kecantikan itu akan pudar, dan pada saat itu, satu2nya yg tersisa dari cewe "sempurna" lu adalah karakternya. Pastiin kalo lu ma dia punya visi dan misi yg sama tentang hidup, jangan sampe udah married nanti baru ngerasa ga cocok terus ribut pengen cerai.

Cintailah seseorang apa adanya, bahkan walaupun dia hanyalah seekor kodok yg tidak punya apa2, karena yg namanya kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh menemukan seseorang yg "sempurna" tapi bagaimana kita bertumbuh bersama dia di dalam cinta dan komitmen dalam jangka waktu yg tidak sebentar. Cinta lu yg akan membuat dia menjadi seorang pangeran. Dan kalopun andaikata dia gagal jadi pangeran, dan tetep jadi seekor kodok, bahkan lu ikutan jadi kodok bareng dia, mestinya ga masalah kan? Rela berjuang dan melakukan segalanya demi kebahagiaan lu, bukankah itu definisi seorang pangeran? Meskipun ia berwujud kodok? =)


We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly

Sunday, May 19, 2013

Anda Tidak Bisa Menggambar!


"Anda tidak bisa menggambar...sepertinya Anda salah masuk jurusan" itu kata seorang dosen tua di kala beliau saat melihat gambar buatan gua di pertengahan semester 2 di 'mantan universitas' gua. Entah maksudnya mau menyemangati, atau memang beliau segitu kecewanya melihat gambar gua. Tapi kalimat berikutnya, lebih menyakitkan lagi.

"Saya tidak habis pikir bagaimana caranya Anda tidak bakat menggambar tapi bisa lolos ujian saringan masuk ke sini, mungkin untuk tahun2 berikutnya standardnya harus lebih ditingkatkan" kata beliau sebelum akhirnya melengos pergi.

Well, sejujurnya, emang dari awal gua ga ada niat untuk kuliah di tempat ini. Gua udah keterima di sebuah universitas swasta di kampung halaman gua, di jurusan yg gua inginkan. Tapi ternyata orang tua gua pengen gua iseng2 nyobain ikut ujian masuk ke universitas yg ternama ini. Siapa tau keterima, kata mereka, iseng2 berhadiah, no pressure. Eh ternyata ujiannya ga sesusah yg gua kira, plus ada ujian menggambar segala. Asik deh.

Dari kecil gua udah suka menggambar. Waktu SD sampai SMP, kalo ditanya cita2 gua apa, pasti gua dengan tanpa ragu menjawab "Komikus". Gambar gua ga bagus2 amat (cuma pernah menang juara gambar anak pas 17 Agustusan di sekolah), tapi gua menikmati yg namanya menggambar. Sayang, semenjak masuk SMA, seiring dengan pergolakan jaman (baca : pubertas), lama kelamaan gua mulai jarang menggambar, dan cita2 gua pun berubah seiring dengan perkembangan jaman.

Ditambah lagi gua masuk jurusan IPA, sekolahnya sibuk banget. Kepala udah pusing sama rumus, boro2 ada waktu ngegambar. Kalo ada waktu kosong, pengennya tidur, nelpon gebetan, atau buka "Friendster". Satu2nya kegiatan menggambar gua adalah menggambar struktur epidermis tumbuhan di buku catatan Biologi atau "menghias" foto2 para pahlawan di buku pelajaran Sejarah. Soal yg kedua, gua yakin bukan cuma gua seorang yg seneng nambahin kumis atau balon kata2 di samping foto2 para tokoh sejarah tersebut di kala bosen dengerin guru Sejarah cuap2, hehehe.

Anyway, gua ga pernah nganggap gambar gua bagus, masih banyak orang di sekitar gua yg gambarnya laksana karya fotografi. Tapi sekarang gua dibilang GA BISA GAMBAR, kata2 itu cukup menohok hati gua. Mungkin salah gua ga pernah serius menekuni bakat gua yg satu ini, tapi jujur gua pribadi ngerasa bahwa sistem pendidikan di universitas tersebut cukup "aneh".

Entah akibat ujian masuk yg terlampau susah sehingga mahasiswa2 yg lolos dari penyaringan tersebut dianggap udah terlalu JAGO, atau akibat satu kelas isinya 200 orang lebih sementara dosennya hanya satu-dua orang saja per mata kuliah, yg jelas gua sama sekali ga ngerasa "diajarin" selama kuliah di sini. Katanya ini pelajaran tingkat dasar, kita dituntut untuk bisa berkarya menggunakan aneka ragam media yg kebanyakan baru pertama kali gua pegang seumur hidup, dan kita dianggap udah bisa, disuruh belajar sendiri, dosen hanya nilai hasil akhirnya.

Tapi ya gua liat orang laen enjoy2 aja kuliah kayak gini. Gua pertama kali pegang kuas, megangnya aja masih salah, seperti orangutan pertama kali megang stick PS. Sementara orang2 di sekeliling gua udah sibuk menggambar dan hasil gambarnya? Ga usah ditanya. Gambar gua kayak gambar Picasso abis sakaw terus ketabrak truk manggis sampe nyebur ke got, sementara gambar mereka kayak bukan gambar, lebih mirip foto. Bingung deh. Mungkin memang bener kalo gua salah jurusan.



Karena satu dan lain hal akhirnya gua keluar dari tempat itu, kembali ke universitas swasta di kota gua. Gua masuk jurusan yg sama dengan jurusan gua di 'mantan universitas' gua, tapi cara pengajarannya bener2 berbeda 180 derajat. Kita belajar gambar dari dasar, dari cara megang pensil sampai cara menoreh garis di atas kertas. Dari bagaimana caranya megang kuas yg benar, mencampur warna, dan lain sebagainya. Meskipun kedengerannya simpel, tapi ternyata banyak hal2 yg ga akan kita ketahui kalo bukan dari pengalaman dosennya.

Dan sejak hari pertama di situ, gua merasa bahwa akhirnya gua menemukan tempat di mana seharusnya gua berada. Di universitas sebelumnya, gua dituntut untuk jadi luar biasa, untuk jadi segala bisa dan harus jadi yg terbaik, melebihi orang lain, dan semua itu harus bisa kita capai tanpa diajari. Di universitas ini, gua berkarya untuk belajar, belajar untuk mahir, dan mahir itu bukan untuk pembuktian atau berada di atas orang lain. Di sini gua menyadari bahwa kemajuan itu baru bisa dicapai apabila kita rendah hati dan mau belajar dari orang lain. Di sini gua belajar menikmati apa itu kreativitas, dan bahwa gambar itu bukan segalanya bagi seorang desainer.

Yup, siapa bilang kalo mau jadi desainer harus bisa menggambar sampe mirip foto? Gua sering menemukan banyak remaja yg kreatif, punya bakat, tapi ga berani masuk jurusan desain akibat ga pede sama kemampuan gambarnya. Nih, gua kasih tau beberapa hal penting :
1. Pada umumnya, pada saat masuk kuliah, semua orang juga belum bisa apa2. Tapi karena itu kan kita masuk kuliah? Untuk belajar, untuk mengerti, untuk jadi mahir. Kalo sebelum masuk kuliah udah ngerasa jago, ya buat apa kuliah?
2. Gambar bukan segalanya bagi seorang desainer. Kalo kalian mau jadi pelukis atau illustrator, ya memang butuh kemampuan menggambar yg tinggi. Tapi desain kan sebuah bidang yg luas. Selama kita punya kreativitas, media untuk berekspresi tuh ga terbatas pensil dan kuas. Fotografi misalnya, atau creative writing. Yg penting itu idenya, medianya bisa dieksplorasi nantinya.



Setelah kuliah 4 tahun di universitas yg sekarang, gambar gua ada peningkatan, tapi masih belum bisa mirip foto. Gua lebih kuat dalam hal ide dan konsep ketimbang segi artistik. Di saat Tugas Akhir, gua dapet topik yg mengharuskan gua menggambar dan mewarnai secara digital. And you know what? Gua ga takut. Sambil ngerjain TA, gua sambil belajar. Dan setelah melalui proses panjang dan perjuangan keras, TA gua pada akhirnya mendapat nilai A dan gua lulus kuliah dengan nilai yg memuaskan.

Board Game Bandung Lautan Api, karya TA gua

Setiap orang pasti punya kelemahan, tapi kelemahan itu bisa kita atasi dengan kelebihan di dalam bidang lain. Yg penting, jangan menyerah sebelum berusaha. Orang yg ga berbakat menggambar kayak gua aja bisa jadi desainer, kenapa kalian tidak bisa menjadi yg kalian inginkan? Jangan menyerah mengejar impianmu kawan, sesulit apapun. Meskipun orang laen bilang bahwa itu tidak mungkin, tapi jangan percaya begitu saja. After all, ini hidup kita, bukan hidup mereka. Yg bakal ngejalanin semua itu diri kita sendiri, bukan mereka. Mereka ga bisa, bukan berarti kita juga ga bisa.

Dalam hidup kita akan selalu menemukan orang yg lebih mahir daripada kita, tapi jangan jadikan itu alasan untuk patah semangat. Jangan juga menganggap diri sendiri adalah orang yg paling mahir. hendaklah kita selalu rendah hati dan mau belajar. Arogansi hanya akan membuat kita terkurung di dalam kepuasan yg fana. Sementara yg namanya kesuksesan hanya akan datang apabila kita tidak cepat puas dan selalu punya hasrat untuk berkembang.

Segala sesuatu di dalam hidup itu butuh proses, dan selama ada niat, pasti ada jalan. Di dunia ini ada dua tipe orang : orang yg berbakat dan orang yg berbakat dalam kerja keras. Kalo lu ga bisa jadi yg pertama, jadilah yg kedua. Di saat hidup seolah2 tidak ada jalan keluar, itu tandanya kita harus gali sendiri jalan keluarnya, bukan lewat jalan yg udah disediakan. Hidup itu tidak selalu hitam atau putih. Di saat pilihan yg ada tidak sesuai dengan yg kita inginkan, kita dituntut untuk jadi kreatif. Warnai hidupmu dengan warnamu, bukan warna yg disediakan orang lain.

Sekarang setiap kali gua teringat kata2 si dosen tua tersebut, gua udah ga sakit hati lagi. Gua udah membuktikan ke diri gua sendiri bahwa kata2 itu TIDAK BENAR. Well, mungkin gua memang ga bakat menggambar, tapi akibat kerja keras, gua sekarang gua BISA menggambar.


The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do.

Wednesday, May 8, 2013

Life Beyond The Great Wall (Part 2)


(Lanjutan dari part 1)

4. Orang China itu PELIT?
Ini adalah satu mitos yg beredar luas...orang China itu pelit, pedit, kopet, hitungan, dll Temen2 bule gua dari manca negara juga bilang bahwa di negaranya mereka sering denger hal ini. Gua rasa hal ini udah jadi pengetahuan umum, masyarakat di seluruh dunia mempercayainya...kecuali orang China nya sendiri. Kenapa? Karena ternyata setelah gua hidup di tengah2 mereka, gua menemukan bahwa mitos ini SALAH. Yg ada malah sebaliknya. Orang China adalah orang yg sangat RAMAH dan ROYAL.

Gua ga tau ya kalo udah masuk urusan bisnis, tapi selama 9 bulan hidup di tengah masyarakatnya, gua ga pernah nemuin orang yg pelit, malah kebanyakan TERLALU BAIK sampai kadang gua ga enak hati sendiri.

Monday, May 6, 2013

Life Beyond The Great Wall (Part 1)


Udah 9 bulan gua hidup di "Negeri Panda" ini dan selama 9 bulan ini banyak hal yg terjadi di dalam hidup gua. Pertama gua dateng ke sini, gua ga bisa ngomong apalagi denger orang ngomong, udah kayak orang bisu tuli. Sekarang, yah lumayan deh, setidaknya bahasa sehari2 sih udah lancar. Selaen belajar bahasa, di sini gua juga bergaul sama banyak orang, orang China lokal dari beragam daerah, dan juga bule2 mancanegara yg terdampar di sini seperti gua. Dan yg namanya hidup di negeri orang, tentu mau ga mau kita lama2 juga belajar "budaya" nya.

Dari semua pengalaman gua selama 9 bulan ini, wawasan gua bener2 terbuka, dan gua menemukan bahwa kehidupan di China tidak seperti yg gua denger atau bayangkan sebelumnya.

Tuesday, April 30, 2013

Emotional Flutter di TUNE UP!


Hari ini gua ngabisin waktu sekitar 4 jam untuk nge-TUNE UP "Emotional Flutter"

Beresin apanya? Beresin TAG (label) nya...supaya rapi, jelas, jadi pembaca gampang kalo mau baca2 tulisan terdahulu.

Buat yg ga tau apa itu "TAG" atau "LABEL", intinya adalah sebuah kata kunci untuk mengklasifikasikan tema suatu artikel di blog kita. Label itu letaknya di mana? Ada di bagian bawah setiap postingan, liat deh gambar di bawah ini :

Friday, April 26, 2013

Bukan ANGKA Biasa



Halo semuanyaaa...dah lama nih ga update blog, akhir2 ini lagi sibuk banget belajar untuk ujian HSK.

Anyway, meskipun akhir2 ini gua jarang update, tapi syukurlah ternyata jumlah pengunjung ke blog terus bertambah, makin hari makin banyak. Pagi ini ga sengaja gua liat statistik blog...eh ternyata angkanya bagus, jadinya gua screenshot deh, hehehe...

Wednesday, April 17, 2013

My To-Do List @ Home

Ini BUKAN April Mop...

Ok, it's official now, bulan July-Agustus nanti gua bakal pulang ke Indonesia selama sebulanan. Begitu denger kata "PULANG", di hati gua udah berkecamuk sejuta gejolak dan di otak gua langsung muncul sejuta harapan. Yeah, gua udah menjalani bulan ke-8 gua di China dan mungkin ketabahan gua juga sudah mencapai batasnya. I really miss HOME so much!

Kalo seandainya pulang nanti, apa aja sih hal2 yg pengen gua lakuin di Indonesia?

1. MAKAN
No 1 (selaen keluarga) yg paling gua kangenin dari Indo adalah makanannya! Saking kangennya, sampe kadang kebawa mimpi. Waktu itu pernah gua disuruh presentasi tentang makanan2 Indo di sini. Waktu cari gambarnya di Internet, air liur gua ga bisa berenti ngeces dan waktu presentasi, perut gua sampe krucuk2 donk ngeliatin gambar Batagor.

Gilaaaaaaaa...sumpah gua kangen banget!!!!!! Kalo bisa sih, begitu gua sampe rumah, di meja makan sudah terhidang nasi padang lengkap dengan gepuk...slurp...jiz, gua jadi laper lagi nih.

Makanan2 yg gua kangenin di China sini adalah :
- Nasi Padang
- Martabak
- Batagor & Siomay Goreng
- Nasi Goreng
- Bala-Bala / Perkedel
- Nasi Campur Cibadak
- Western Steak Glosis
- Mango Dessert Kedai Ling-Ling
- Ayam Paledang
- Pizza Hut

Dan satu lagi...mungkin temen2 ga percaya, tapi gua kangen banget sama yg namanya KEJU! Yup, keju. Cheese. Bukan makanan yg khas Indonesia banget tapi berhubung di China sini nyari yg namanya keju tuh susaaaaah banget (karena orang sini ga makan keju plus mereka anggep keju itu ga sehat) jadinya gua kangen banget. Pizza di sini aja ga pake keju...bayangin...hiks.

Mango Dessert Kedai Ling-Ling


2. Play with My Dog(s)
Salah satu yg paling gua kangen sama rumah (selaen keluarga tentunya) adalah anjing gua. Setiap kali liat anjing di sini, gua selalu inget Abee, adik gua yg berbulu tersebut. Dia masih inget gua ga ya? Secara gua kan udah setahun ga pulang. Ditambah lagi, waktu gua pergi, mama gua "mengadopsi" satu ekor lagi, namanya Dino. Mama bilang, katanya Dino juga ga kalah ramah dan nakalnya dari Abee...wah rumah gua bakal tambah rame aja donk? Kira2 mereka bakal bisa akrab ma gua ga ya?

Abee and Dino


3. Belajar Naek Motor
Setahun kaga naek motor dijamin skill gua makin cupu, atau mungkin hilang sama sekali. Begitu sampe Bandung harus belajar lagi dari nol, supaya bisa pergi2 tanpa tergantung sama orang lain. Mungkin gua bakal minta adek gua bonceng gua ke tempat dulu gua ngajarin dia naek motor dan kali ini dia yg harus ngajarin gua, hahaha...


4. Check-Up ke Dokter Gigi
Segimana bagusnya negeri orang, tetep aja ada beberapa hal yg ga nyaman, salah satunya adalah ke dokter gigi. Buat gua, satu2nya dokter gigi yg gua percayai di dunia adalah paman gua yg berprofesi jadi dokter gigi dan dari kecil udah rutin mengontrol kesehatan gigi gua, hehehe. Biarpun tiap kali dateng gua selalu diomelin, tapi tetep lebih baik daripada gigi gua bermasalah waktu gua lagi di luar negeri, hehehe


5. Nonton Ironman 3
Salah satu hal yg gua ga suka dari China adalah...film2 Hollywood telat banget masuk bioskopnya, malah terkadang ga masuk sama sekali. Maklum, kebijakan pemerintahnya agak ribet soal yg satu ini. Sistem sensornya ketat banget dan setahun mereka cuma kasih kuota 16-20 film impor dari luar negeri. Makanya, gua harap sewaktu di Indo gua ada kesempatan untuk nonton Ironman 3 bareng sahabat2 kuliah gua (yg semuanya penggila Marvel). Dan yg ga boleh dilupain, pulang nonton bioskop, pergi ke KFC dan ngobrol sampai subuh, hahaha.



6. Ikutan Latsab Pramuka
Kangen banget sama adik2, kakak2, sahabat2, keluarga kedua gua di Sanggar. Waktu dulu di Indo, tiada hari Sabtu tanpa ngebina. Di negeri seberang, setiap hari Sabtu di hati gua kok rasanya ada sesuatu yg hilang...serasa ada yg kurang kalo ga pake seragam pramuka dan melihat senyum cerita teman2 di Sanggar. Pokoknya ntar kalo gua pulang, gua pengen bantuin ngebina lagi =)

7. Tamasya ke Pantai
Di sini gua dihajar 4 musim...tapi tetep, rasanya ada yg kurang kalo belom ke pantai. Dari kecil, pantai selalu jadi tempat wisata paling asik. Walopun udah puluhan kali ke Pangandaran misalnya, tapi gua ga pernah bosen sama yg namanya pantai dan laut. Semoga temen2 gua nanti ada yg berminat nemenin gua ke pantai, hahaha.

8. Nginep di Villa
The best place untuk hangout sama temen, di mana lagi kalo bukan ke villa gua di Lembang. BBQ-an, terus semaleman begadang ngobrol sambil maen boardgame, itu udah jadi sebuah rutinitas yg paling asik sepanjang tahun2 gua kuliah, dan mumpung sekarang temen2 gua belom pada married, kita masih ada kesempatan untuk melakukan yg kayak gini, hehehe.



9. Foto Pake Toga
Apalah artinya wisuda kalo ga bareng sahabat2 gua? Secara sahabat2 gua semuanya udah pada wisuda dan terpencar ke aneka penjuru Indonesia, wisuda juga udah ga gitu ada artinya buat gua. Yg penting gua harus ambil ijazah ke kampus, terus pinjem toga dari temen, foto bareng ortu dan adek gua, hahaha...

10. Nyanyi di Gereja
Di sini gua agak jarang ke gereja akibat ga ngerti mereka ngomong apa. Kalopun ke gereja, juga cuma bisa bengong mencoba melatih kemampuan mendengar. Mau ikutan nyanyi, lagunya gua ga kenal. Kalo misalnya ada kesempatan, gua pengen latihan bareng temen2 TM3 dan ikutan tugas paduan suara di gereja, hehehe.

11. Belanja buku ke Gramedia
Denger2 selama gua di China, banyak buku bagus yg terbit. Naked Traveler edisi ke-4, komik Legenda Naga favorit gua, dan masih banyak lagi. Pengen beli sedikit buku ah, untuk dibawa sebagai bahan bacaan pas gua balik ke China akhir Agustus nanti, hehehe.


Ada yg punya masukan? Hal apa lagi yg harus gua lakuin di Indonesia sebelum balik ke China?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...