Monday, 15 April 2013

Atheisme : Bukan Sekedar Ga Percaya Tuhan

57


Temen2 tentu pernah denger istilah "Atheis" kan? Sebenernya apa sih Atheisme itu?
Atheis berasal dari Bahasa Yunani "Alpha" yg berarti "tidak ada" dan "Theos" yg berarti "Tuhan"
Kedua kata tersebut dipadukan menjadi "Atheos" yg berarti "tidak ada / tanpa Tuhan".


Orang yg menganut paham "Atheis" adalah mereka yg tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Tidak percaya Tuhan, bukan berarti orang itu lantas menjadi tidak beradab dan tidak bermoral, melegalkan yg namanya pembunuhan, seks bebas, dll. Bukan, bukan begitu yg namanya Atheis. Atheis adalah mereka yg tidak percaya adanya campur tangan Tuhan di dalam segala hal yg terjadi di dalam kehidupan. Menurut mereka, segala sesuatu yg terjadi di dunia ini bisa dijelaskan dengan rasio. Mungkin kedengerannya aneh dan tidak masuk akal, tapi jangan memandang rendah mereka, karena tentunya mereka punya alasan kuat di balik pandangan mereka ini.

Kenapa orang bisa menjadi Atheis? Menurut survey, kebanyakan orang jadi Atheis karena miris melihat orang2 yg ngakunya beragama, tapi kelakuan mereka ga ada bedanya dengan binatang yg ga menyembah Tuhan. Membunuh mengatasnamakan agama misalnya, saling membenci antar umat beragama, dan masih banyak lagi. Kok agama tidak membuat manusia jadi lebih baik? Di mana Tuhan? Mengapa Ia tidak bertindak terhadap segala kebobrokan2 yg dilakukan umatnya? Pemikiran2 seperti inilah yg menyebabkan seseorang menjadi mempertanyakan eksistensi Sang Pencipta.

Banyak orang2 pinter dan berjasa di sejarah dunia seperti ilmuwan dan filsuf yg jadi Atheis. Itu bukti bahwa kebanyakan manusia meninggalkan kepercayaannya bukan karena mereka murtad atau hatinya terbawa iblis, tapi karena mereka berpikir.

Andreas Ludwig Feurbach adalah salah satu filsuf pertama yg tercatat mempertanyakan eksistensi Tuhan. Seringkali ajaran agama mengatakan bahwa Tuhan bertransformasi di dalam kehidupan manusia, yaitu Tuhan berusaha mencapai tujuanNya melalui setiap tindakan manusia. Apabila benar demikian adanya, berarti Tuhan bagaikan dalang dan manusia adalah wayangnya. Benarkah?

Menurut Feurbach, pernyataan ini tidaklah benar karena menurutnya, Agama adalah PROYEKSI dari kehidupan manusia. Maksudnya gimana? Seringkali dalam beragama orang kadang tidak memakai wahyu asli dari Tuhan, melainkan berdasarkan emosi pribadi. Akuilah, kitab suci agama apapun selalu tertulis dalam bahasa kuno yg tidak mudah untuk dibaca, apalagi di-interpretasikan. Jadi menurut Feurbach, seringkali ajaran2 agama yg diajarkan kepada umat tuh "menyimpang" dari makna aslinya.

Temen2 tentu tahu Karl Marx kan? Filsuf asal Jerman pencetus sosialisme ini pernah berkata "Agama bagaikan opium (narkotika) bagi manusia" Hal ini dikarenakan banyak manusia yg beragama, tapi ga menggunakan hati. Akibatnya mereka jadi bodoh, dungu, fanatik, dan anarkis...sama aja kayak orang lagi sakaw akibat narkotika.

Apakah benar pendapat Karl Marx tersebut? Menurut gua : Benar, APABILA agama hanya ritus dan tidak berpihak kepada masalah manusia. Tapi pada kenyataannya tidak semua orang beragama bertindak seperti itu. Banyak juga orang beragama yg mendedikasikan hidupnya demi kebaikan, Mother Teresa contohnya. Di tangan orang2 seperti beliau, iman bukanlah hanya omong kosong tetapi bertindak bagi kemanusiaan.

Banyak filsuf2 lain yg juga mempunyai pendapat mengenai Atheisme. Nietzche pernah berkata bahwa "God is Dead"...manusia membunuh Tuhan, karena agama seringkali dijadikan alat politik yg penuh kebohongan dan kebusukan. Di tangan agama, manusia menjadi bermental budak, tidak punya akal sehat.

Sigmund Freud, seorang neurologis terkenal dan juga pencetus teori psiko-analisis, pernah berkata bahwa agama itu ilusi yg menyebabkan penyakit "Neurosis Infantil Kolektif" terhadap manusia. Akibat agama, manusia menjadi lemah dan manja, seperti anak2. Mereka terlalu mengandalkan Tuhan, mengandalkan "kekuatan ilahi" untuk menyelesaikan masalah2 hidup mereka.

Jean Paul Sartre, filsuf pencetus Eksistensialisme, pernah berkata bahwa "Manusia tidak akan pernah jadi manusia selama masih ada Tuhan" Kebebasan sesungguhnya baru bisa diraih apabila tanpa Tuhan. Selama ada Tuhan, manusia terkekang, tidak pernah bisa berkembang maksimal. Menurutnya, hal ini dikarenakan terkadang agama terlalu meremehkan rasio, hanya mementingkan kolektivitas saja.

Guru Fenomenologi Agama di kuliah gua pernah bilang "Atheisme adalah oto-kritik terhadap umat beragama saat ini", dan gua setuju banget dengan pendapat beliau. Agama menjadi salah satu sumber perselisihan di dalam kehidupan manusia sementara memeluk agama pun tidak bisa menjamin bahwa perilaku seseorang akan menjadi baik. Jadi, sebenarnya untuk apa sih kita beragama?

Sementara para Atheis ini, meskipun mereka tidak menyembah Tuhan, tapi mereka berkarya dan karyanya secara nyata bisa bermanfaat bagi umat manusia sampai berabad2 setelahnya. Jadi apakah orang Atheis itu salah? Gua rasa ngga, karena meskipun tidak mempercayai Tuhan, mereka ga jadi jahat, malah mereka jadi pinter dan beradab. Orang Atheis ga merugikan orang lain, justru orang beragama lah yg sering merugikan orang laen...itulah fenomena yg sering terjadi di dunia saat ini.

Bagaimana pendapat temen2 mengenai pendapat2 mereka?



Temen2 setuju ga kalo agama itu mengkotak-kotakkan manusia? Gua sih setuju, karena agama terkadang membuat manusia menjadi fanatik, merasa diri adalah yg paling benar dan merendahkan mereka yg mempunyai pandangan berbeda. Dan ga jarang, hal tersebut juga menimbulkan konflik, bahkan pertumpahan darah. Baca deh sejarah umat manusia 100 tahun terakhir...berapa banyak insiden terorisme dan pertumpahan darah yg terjadi dengan mengatasnamakan agama?

Jadi apakah ajaran agama itu salah? Tentu tidak. Yg salah adalah pemeluknya, bukan agamanya. Gua kenal seorang temen yg Atheis dan tau ga, terkadang gua ngerasa kalo dia lebih memahami yg namanya "agama" daripada kita2 semua yg beragama. Dia belajar filosofi semua agama sama rata, tanpa ngejudge apakah itu salah atau bener. Buat dia, agama itu sebuah filosofi hidup yg baik, tapi entah kenapa banyak orang yg ngakunya beragama, tapi hidupnya ga sesuai dengan ajaran agamanya tersebut.

Dia bilang gini ke gua, "It's not GOD that I hate, it's His so-called FANS CLUB" (Yg saya benci bukanlah Tuhan, tapi FANS CLUB nya") Dan menurut gua, argumen dia itu sah2 aja. Buat gua sendiri, gua liat banyak orang beragama di Indonesia tuh malah jadi bodoh, ngeributin yg ga penting. Mereka melupakan esensi yg paling penting yaitu agama melayani manusia, bukan manusia melayani agama. Agama dibuat untuk membuat manusia makin manusiawi, bukan malah jadi biadab. Tapi dewasa ini gua liat yg terjadi malah sebaliknya. Kalo agama malah jadi alasan untuk saling membenci dan menyakiti, terus apa manfaatnya?

Nah temen2 udah liat kan sekarang apa sih isi otaknya orang Atheis. Mereka bukan murtad atau terbawa iblis, atau juga terlalu mengagungkan logika, ngga. Itu semua pilihan hidup, yg ga bisa dijudge bener atau salahnya. Kalo menurut gua, mau beragama atau tidak, itu pilihan pribadi masing2 orang. Tapi apapun pilihan kita, yg paling penting adalah :

Kesatu, kita ga boleh menganggap pilihan kita adalah yg paling bener, karena bener atau salah hanya Sang Pencipta yg tahu, bukan manusia.

Gua memeluk agama dengan memegang sebuah prinsip : beriman itu adalah sebuah taruhan.

Bisa aja ternyata gua salah, ternyata di dunia ini ga ada yg namanya Tuhan, semua hanya fenomena ajaib yg bisa dijelaskan dengan logika manusia. Tapi kalo harus bertaruh dengan misteri Ilahi tersebut, gua memilih untuk percaya karena buat gua, kasih Tuhan tuh nyata dan terasa di dalam kehidupan gua.

Kalo amit2 ternyata gua salah, Tuhan itu ga ada, dan selama ini gua cuma memuja2 yg ga exist...ya udahlah...lebih baik daripada gua menolak mempercayai Tuhan tapi ternyata Tuhan beneran ada dan selama hidup di dunia ini ternyata gua kehilangan kesempatan untuk mensyukuri hikmat yg Tuhan berikan.

Kedua, yg ga kalah penting adalah...kita ga boleh memaksakan kepercayaan kita kepada orang laen. Gua percaya bahwa semua agama di dunia ini sebenarnya sama, berasal dari satu Tuhan, hanya saja mereka memanggil-Nya dengan cara yg berbeda.

Pernah denger cerita tentang 3 orang buta dan seekor gajah?
Alkisah, ada tiga orang buta yg ingin mengetahui seperti apa sebenarnya binatang yang namanya GAJAH itu. Mereka pun sepakat untuk meminta bantuan seseorang dan meminta ditunjukkan separti apa sebenarnya gajah itu. Orang buta pertama maju dan memegang kaki gajah. Dia bilang, “gajah itu bulat dan keras seperti batang pohon”. Orang kedua maju dan memegang belalainya. Dia sampaikan, “gajah itu bulat dan panjang seperti ular”. Lalu, orang ketiga maju dan memegang kupingnya. Ia berteriak, “gajah itu tipis seperti kipas!”

Kisah di atas menggambarkan pemahaman manusia terhadap Tuhan. Apakah pendapat ketiga orang buta itu salah? Menurut gua, pandangan mereka bukanlah SALAH melainkan TIDAK LENGKAP. Bahkan andaikata kita tidak buta sekalipun, kita tetap tidak boleh menganggap pandangan kita yg paling benar. Mengapa? Gajah yg terlihat oleh mata manusia tentunya berbeda dengan gajah yg terlihat di mata hewan lain, serangga atau anjing misalnya.

Kita manusia, ga peduli setinggi apapun ilmu yg kita pelajari, tetap saja akal budi dan kemampuan kita yg terbatas tidak akan cukup untuk memahami misteri Ilahi mengenai eksistensi Sang Pencipta yg tidak terbatas. Karena itu hendaklah kita tidak merasa diri yg paling benar, apalagi memaksakan kepercayaan kita terhadap orang lain.

Menurut gua, manusia tanpa agama itu bagaikan Spiderman yg berada di ruang hampa. Tanpa adanya gedung2 tinggi tempat ia beraksi, Spiderman tidaklah berbeda dengan manusia berkostum biasa. Begitu juga manusia. Tuhan memaknai kehidupan manusia. Dengan adanya agama, kehidupan manusia dimaknai. Kebebasan bukan dibatasi, tapi dimaknai dengan adanya "tanggung jawab"

---

Bagaimana pendapat teman2 mengenai pendapat gua ini? Silakan share jalan pikiran kalian di kotak komentar di bawah ini. Berkomentarlah dengan sopan, semua komentar yg berbau SARA atau menyinggung suatu agama atau golongan akan dihapus. Thanks...

57 comments:

  1. oh kereeennn XD

    saya lumayan setuju sama postingan kamu yg ini kev ;;w;;b

    ReplyDelete
  2. Hai ko. Utk share aja, keluarga aku bukan keluarga religius (ga enak ngomongnya disini sih, haha) o/ karena itu kita ada di sisi "spektaktor" dimana kita bs lihat orang2 di golongan ekstrim dan tengah.

    Disini, yg kumaksud ekstrim adl mereka yang "terlampau fanatik" dlm agama dan mereka yang "membenci agama dan tuhannya". Mereka spt itu aku yakin pasti beralasan. Tapi istilah "deny god" itu menurutku jg udah termasuk kategori ekstrim. Aku ga nyalahin mereka, mereka seperti itu memang beralasan... ^^

    Aku jg merasa bingung kadang, ada bbrp hal yg ga bisa dijelasin oleh ilmiah dan science (yg dalam hal ini katanya "agama" lah yg mlakukan), tapi ada jg bbrp hal dalam agama yg ga bs dijelasin scr ilmiah. Inilah yg berkonflik, mungkin penyebab terjadinya ada "fanatism di kalangan" dan "atheism". Manusia makhluk intelejen, jadi pikiran mereka berkembang :D

    Kl papaku bilang sih, agama itu sebagai "pegangan hati". Dengan agama, kita ga merasain gundahan hati/kesepian soalnya kita punya "sesuatu" utk diajak bicara. Kita punya "Sesuatu" untuk menenangkan hati kita (ajaran baik agama tentunya, dan ada tuhan yg selalu melindungi kita). Agama menuntun kita untuk hidup baik, dan ajaran2 nya pasti baik (the one we know). Cuma, cara kita "interpret" ajaran itu aja yg jadi titik permasalahan.

    Orang2 yang "memperkenalkan" (or maybe, menciptakan) agama pasti tujuannya baik karena kita jg melihat orang2 beragama yang baik hidupnya dan bahagia. Fine2 aja mereka.

    Meskipun gitu, kayanya bener sih yg koko tulis... Itu bisa diibaratkan agama itu harus digunain dngn akal sehat jg. Koko jg pernah denger kan gereja setan dsb? Mereka "ngaku" sbg agama, dan kl kita ga filter informasi itu, otak kita bakal dicuci sama mereka dan kita jd fanatisme agama itu. Kan serem...

    omg panjang banget bisa jadi satu post >_<
    Aku ada banyak topik soal ini ko, cuma blum berani susun dan tulis hahaha. kayanya topiknya dangerous gmana gitu. anyway nice post ko :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks untuk sharenya. Ya, bener seperti yg lu katakan di atas, agama sebenernya punya tujuan baik, tapi sayangnya ga semua manusia beragama pake hati dan logika, kebanyakan cuma di KTP sama ikut2an kalo ada kepentingan, jadinya seringnya menjadi "melenceng"

      Meskipun keluarga gua adalah keluarga Katolik, tapi gua juga ga menutup mata sama ajaran agama laen dan juga pendapat temen2 yg "tidak beragama" Buat gua, agama itu lebih ke arah praktek di kehidupan sehari2, bukan cuma sekedar ritual. Dan yg namanya Tuhan tuh ga bisa dideskripsikan oleh akal manusia, jadi kita ga bisa seenaknya ngejudge pandangan seseorang tentang Tuhan itu bener atau salah.

      Seseorang yg beriman justru seharusnya tidak memandang rendah orang2 yg tidak beragama, karena Tuhan itu tidak terbatas, dan pandangan orang2 atheis itu justru sebenernya bisa jadi pelengkap yg bikin kita makin bijaksana dalam beragama.

      Delete
    2. Oya, kalo suatu hari lu nulis tentang hal ini di blog, please kindly tell me. Gua tertarik untuk baca dan gua ga akan ngejudge lu berdasarkan pandangan lu =)

      Delete
    3. ane jadi tertarik nulis blog soal agama neh hahaha

      Delete
    4. @ Clude C kenni

      "Buat gua, agama itu lebih ke arah praktek di kehidupan sehari2, bukan cuma sekedar ritual"

      ape yg loe katakan diatas itu adalah tahapan ke 2, PR buat loe adalah: cari tahapan pertama ketika loe mempelajari agama. Kalau loe udah ketemu, loe akan paham sejauh mana bobot tulisan yg udah loe publikasikan ini..:)

      Delete
  3. hebat nih postingannya nambah wawasan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hebat? hadeww.....banyak2 belajar bro...
      setelah loe banyak belajar, loe akan tahu mana tulisan yg bisa loe anggap hebat dan mana tulisan berdasarkan logika dangkal...

      Delete
  4. kayanya dosen fenomologi agamanya sama nih... wkwkwk

    jadi atheis lebih cape loh bro... mending jadi agnostik aja ane sih wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atheis, agnostik, beragama, semua juga cape...makanya dibikin simpel aja...

      This is my simple religion. There is no need for temples; no need for complicated philosophy. Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness. ~Dalai Lama

      Delete
    2. emang berat sih klo argument tentang beginian... tapi klo dah mati semua jelas kok..
      apakah kita mati begitu saja tanpa adany pertangung jawaban kelak??
      atau ada kehidupan KEKAL ABADI berikutny....

      semua benda langit tercipta tentu ada TRIGGER (pemicu) dan pembuatny

      Delete
  5. om kepen emang keren, materinya lengkap dan disertai dengan beberapa simulasi..
    jadi lebih ngerti tentang isi artikelnya :D

    dan gue setuju banget sama tulisan ini, agama terlalu mengkotak-kotakan manusia.
    dan sehingga banyak kekerasan yang mengatas namakan agama, seharusnya mereka ngerti akan arti dari toleransi beragama.

    setuju akan konsep bahwa sebenernya umat beragama sebenernya menyembah satu tuhan yang sama, namun cara memanggil dan cara beribadah kepada-Nya lah yang berbeda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuhan menciptakan manusia begitu unik dan beraneka ragam karakter dan jalan pikirannya...gua ga percaya kalo Dia hanya mengijinkan manusia menyembah-Nya dengan SATU cara...=)

      Delete
  6. atheis dan beragama itu sama2 masalah kepercayaan,
    bedanya kebanyakan orang beragama cuman karena keturunan, kemudian mempelajari tentang sejarah, ajaran, dll tentang agamanya setelah memeluknya,
    sedangkan atheis menemukan alasannya sendiri sebelum dia meyakini bahwa tuhan tidak ada,
    hal inilah yg menurut saya membuat orang atheis biasanya lebih baik daripada yg beragama,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena banyak orang di Indonesia yg beragama tanpa menggunakan hati dan logika. Padahal yg namanya iman tuh seharusnya merupakan sebuah pemahaman komprehensif antara perasaan dan logika...=)

      Delete
  7. hai Kak Keven. Bagus bahasannya.

    maaf saya mau bahas beberapa alinea terakhir (sbagai murid yg pernah belajar BI hehehe) "Tuhan memaknai kehidupan manusia"
    menurut saya lebih tepat jika Tuhan memberi makna pada kehidupan manusia. atau Manusia memaknai Tuhan-nya sebagai apa.

    aduh..sy bingung ngejelasinnya, kak, tapi tentang penggunaan kata dan bentuk kalimat aktif-nya, gitu.

    menurut saya, agama itu anugerah. Dan semua di dunia ini harus dalam kadar yg tepat. tidak kekurangan, juga tidak kelebihan, Kalau memaknai agama secara berlebihan mungkin bisa jadi fanatik. Tapi kalau memaknai agama secara kurang jadinya cuma agama KTP

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you koreksinya, tar gua pikirin gimana bagusnya mengubah kalimatnya. Yg dimaknai kehidupannya, bukan agamanya. Karena buat gua pribadi, agama cuma institusi. Intinya adalah bagaimana kita menerapkan ajarannya dalam kehidupan nyata...

      Delete
  8. Nabi Ibrahim saja sebelum jadi nabi mencari-cari apa itu "Tuhan"..

    saya juga g suka ko dengan orang2 yg terlalu fanatik, agama manapun di kitab sucinya tak pernah menuliskan hal-hal buruk, semua tentang kebaikan, hidup bertoleransi, saling melengkapi dan mengayomi. sekarang berbalik, menyebut2 agama dalam tindakan tak bermoral sebagai bagian dari membela agama dan mempertahankan eksistensinya. orang2 semacam ini yg patut dicurigai, apa yg mereka pelajari selama ini dalam hidupnya khususnya "agama", karena sekali lagi, agama manapun mengajarkan hal2 yg saya sebutin tadi.

    manusia memang diberi otak untuk berpikir, berpikir untuk memecahkan misteri kehidupan, namun sepandai-pandainya manusia, otak yg digunakan untuk berpikir itu punya batas untuk mencerna segala misteri yang Tuhan ciptakan. karena hidup tak akan bergairah kalo semua manusia tahu apa yang Tuhan ketahui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya, gua sering baca berita bahwa kadang yg error tuh pemuka agamanya, bukan umatnya. Gara2 pemimpinnya error, umatnya kebawa error. Jadi intinya, fanatisme di Indonesia tuh seringnya diwariskan melalui sistem edukasinya. Cara memperbaikinya gimana tuh?

      Pemuka agama kan egonya gede, terus massa pendukungnya juga banyak. Salah2 nanti kepala kita yg melayang kalo kita berani mengkritik mereka, hehehe...

      Delete
  9. Sederhana aja, orang2 kayak itu punya pemikiran yang dangkal. Saking pinternya mereka, jadinya mereka lebih banyak ngandalin logika. Mereka mengenyampingkan hal2 yang lebih dalem lagi. Setiap agama, pasti ngajarin kebaikan. Yang suka berperang antar agama itu cuman orang2 yang gak bisa saling menghargai dalam beragama. Padahal, adanya agama yg berbeda2 itu untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Bukan utk saling membenci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teorinya begitu, tapi yg terjadi sekarang sebaliknya kan? Gua baca berita Indo dari sini, selalu ada aja masalah konyol yg bawa2 agama. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, tapi memang begitulah citra Indonesia di mata publik dan dunia. Selama para pemuka agamanya masih kayak anak kecil, jangan harap ada orang yg percaya teori PPKN di atas...

      Delete
    2. @ Claude C Kenni

      Hahahaha....Ingusan banget logika loe ..hahahaha...

      Delete
  10. ah.... anak buah pak manusun banget nih wkwkwkk

    ReplyDelete
  11. Saya kurang setuju ko Keven dengan pendapat agama mengkotak-kotakan manusia. setahu saya, banyak ajaran agama tidak mengkotak-kotakan manusia, malah menyuruh manusia berbaur, menghargai dan tidak membeda-bedakan satu sama lainnya.

    Kalau manusia terkotak-kotak, ya menurut saya mereka salah mengartikan ajaran-ajaran agamanya, dan membuat "kotak-kotak" untuk diri mereka sendiri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teorinya begitu, tapi yg terjadi masalah sebaliknya kan? Banyak perselisihan dan pertentangan justru dipacu oleh masalah agama.

      Delete
    2. @ Claude C Kenni

      Hahahaha....hadew..hadew...sebagian besar, Atheis amatiran selalu ngomong gitu...Gak..gak...gak....:)

      Delete
  12. bagus banget bang keven materinya,nambah paham deh,...

    Manusia di ciptain tu udah komplit. ada akal ada hati.semuanya tetep kudu dimaksimal-in.Tapiakan ada hal2 yang gak terpecahkan dengan cuma ngandelin logika akal. coba pake hati (filosofi) kadang bikin bingung. Dan di sisi lain Tuhan udah nurunin wahyu (solusi trakhir) buat arahan manusia.

    Setuju banget kalo beragama ato tidak beragama pun tetep kudu saling menghargai en menghormati.

    ReplyDelete
  13. Gue agak gak setuju sama pendapatnya Karl Marx. Menurut gue, agama tuh bukan candu. Agama itu... sesuatu yang bikin manusia tetap optimis dalam menjalani hari-hari dalam hidupnya. Banyak kan kisah orang beragama, karena ajaran agama yang dianutnya, mereka jadi lebih tegar dan tabah dalam menjalani hidupnya. Nasrani, Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, dll... Kebanyakan penganutnya, yang soleh/taat menjalankan agamanya, pasti pembawaannya selalu terlihat optimis dan percaya diri. Mungkin karena ajaran agama yang dianut, mereka jadi punya suatu keyakinan sewaktu menghadapi permasalahan.

    Terakhir,

    Menurut gue, atheis itu orang2 yang putus asa dalam hidupnya. Mereka seorang idealis yang tanpa pernah tahu apa rencana SANG PENCIPTA yang sesungguhnya. Sejauh yang gue baca dan amati, kenapa mereka memilih tak percaya Tuhan, itu karena mereka melihat kenapa masih ada yang namanya kemiskinan, kekerasan, penyakit, bencana alam, dan hal-hal buruk lainnya. Karl Marx memunculkan pahamnya (komunisme - CMIIW) yah karena itu tadi salah satunya. Ia tak percaya Tuhan itu tak ada, karena melihat situasi sekitarnya yang penuh ketidakadilan sosial. Padahal yang salah penganutnya, bukan agama ataupun ajarannya (bener kata lu, Ven!). Kita sering menyalahkan Tuhan, tanpa pernah tahu kalau ada rencana Tuhan di balik semuanya....

    Terus selain itu, kemajuan teknologi, menurut gue, makin menyuburkan paham atheisme dan agnostik. Apa-apa harus bisa dibuktikan. Manusia sudah semakin sulit percaya sama hal-hal yang berbau mistisisme atau spritualisme. Padahal di negara manapun, hal itu selalu ada. Selain Tuhan itu sendiri, gue percaya kok keberadaan makhluk-makhluk halus seperti pocong, kuntilanak, tuyul, drakula, banshee, malaikat pencabut nyawa, dll, dsb...

    Kadang ada saatnya kita hanya menggunakan akal/logika kita, ada saatnya hanya menggunakan perasaan kita, ada saatnya kita menggunakannya sekaligus.... Bijaklah! :)

    Hati-Hati, Ven... Jangan sampai kehilangan keyakinan lu akan Tuhan, karna soal atheis ini. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringkali yang namanya logika dan perasaan itu gak berada dalam satu trek. Logika dan perasaan itu dua hal berbeda. :)

      Delete
  14. suka dan agak setuju sama ini post...
    pernah juga ga percaya Tuhan dan segala hal berbau keTuhanan.
    tapi aku tetep percaya ada satu kekuatan besar yang entah gimana bentuknya tetep ada dan ngeliatin ini dunia...

    (tata bahasanya agak ga beres... sorry. nice blog)

    ReplyDelete
  15. Kritis. Keren.

    Saya kebetulan orang beragama, tidak terpikir sedikitpun untuk menjadi ateis. Bagaimanapun, saya setuju dan berkali-kali mengangguk pada ulasan logis dan reasonable ini.

    Dan saya juga sudah sering bertemu beberapa anak 'muda' yang mengaku ateis. Saya melihat mereka bahkan lebih religius dan punya pandangan spiritual yang lebih 'cerdas' ketimbang mereka yang beragama. Pola pikir spiritualnya orang ateis timbul dari kekritisan pribadi, sementara mereka yang beragama mendapatkan pola spiritual semata-mata dari 'kitab' dan 'dogma' yang sudah dicamkan orang tua mereka.


    Memang sih, beberapa agama memanggil 'Tuhan' dengan cara yang berbeda-beda.
    Ada yang memanggil Tuhan itu sebagai sosok 'raja'. Yang kita sembah-sembah dan puja-puja saja.. sehingga kita tidak boleh sombong. Ada yang memanggil Tuhan itu sebagai 'majikan'. Yang segala petuah-Nya, apapun itu, harus wajib kita laksanakan.
    Ada yang memanggil Tuhan sebagai bagian dari 'sanak keluarga' mereka. Bahkan memanggil Tuhan seolah-olah Tuhan itu bagian dari mereka sendiri. Seperti orang tua, sahabat, Gusti, atau saudaranya sendiri. Seakan-akan Tuhan itu satu aliran darah dengan kita, sangat dekat dengan kita, tempat kita bermanja-manja, berdoa, dan menggantungkan semuanya.

    Ada juga yang memandang Tuhan sebagai ketiga-tiganya: raja, juga majikan, juga sanak keluarga kita.
    Dia Raja yang menciptakan Bumi dan seisinya, alam raya, The Hereafter, manusia--lengkap dengan organ tubuh, kepribadiannya, nasib dan takdirnya--segala macam destiny dalam kehidupan, ilmu pengetahuan, problem dan pemecahannya, sakit dan sembuhnya, jahat dan baik, hitam dan putih (atau simply yin dan yang), filosofi, ideologi, paradoks hidup yang kadang gak logis, and everything that is exist. Dan sewaktu-waktu apa yang diciptakan-Nya akan Dia bikin musnah, sehingga yang Dia ciptakan, yang telah Dia musnahkan tadi, kembali lagi kepada-Nya.
    Dialah majikan yang selalu punya power, yang punya 'will', 'whatever will be, will be!', Dia pemimpin dari apa dan siapa yang diciptakan-Nya. Which segala perintah-Nya, apapun itu, harus dilaksanakan kalau kita mau mendapatkan His Grace.
    Dialah juga saudara, Dia juga bagian dari apa yang diciptaka-Nya. Sosok yang reliable--dipakai untuk bermanja-manja, teman curhat, tempat berdoa, sosok pengasih dan penyayang untuk meminta sesuatu. Mungkin yang satu inilah bagian paling positif dari kegunaan 'Tuhan'. Karena hanya dengan menganggap Tuhan sebagai bagian dari kitalah, manusia akan selalu berbuat baik, lembut, rendah hati dan positif.

    Orang ateis, hanya memanggil 'Tuhan' sebagai Raja, pencipta, pembikin, pemusnah.
    Mereka tidak percaya kalau Tuhan punya peraturan-Nya sendiri, Undang-Undang-Nya sendiri andaikata manusia mau tinggal di wilayah buatan-Nya.
    Mereka juga tidak memandang Tuhan sebagai 'Gusti' untuk meminta ketenangan, to keep spiritually balance di dunia yang seringkali fana ini..

    Seringkali, orang ateis itu lebih peaceful daripada those who believe. Karena those who believe beramal baik hanya karena mereka mengejar surga dan takut neraka, pamrih.
    Sedangkan ateis beramal baik bukan untuk mengejar surga dan bukan untuk menghindari neraka.

    Satu-satunya pola keTuhanan yang bikin 'rusak' dari ketiga itu adalah bagian dimana kita memandang Tuhan sebagai 'majikan'. Kadang mereka yang fanatik dan ortodoks itu mengorbankan segala-galanya (perdamaian lah, HAM, dll) demi melaksanakan perintah Tuhan. Demi menyenangkan Tuhan, katanya.
    Mereka lupa kalau Tuhan 'kan jugalah sosok Maha Pengasih dan Maha Damai. Yang boro-boro minta disenengin, Dia bahkan tidak butuh kita, kita yang butuh Dia.

    Dan betul banget kata si Abang Feubrach, kitab suci itu kan diciptakannya sudah lama sekali. Malah, kitab suci itu adalah sebuah 'sastra', yang bahasanya agak sulit dimengerti. Sering sekali manusia salah menafsirkannya, menafsirkan buku pedomannya sendiri.

    Dan yah,
    we need a balance. Religion was exist to balance us, human, ain't it?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Regardless on how does it call The God :)

      "A religion—no matter how does it call The God—is supposed to lead human to not to walk upon The Earth arrogantly."

      :D

      Delete
    2. Thanks untuk feedbacknya. Setuju banget sama pendapat di atas. Kenapa beragama juga harus pake logika? Karena apabila kita mengenal "Tuhan" kita dengan baik, maka kita tidak akan mudah terhasut oleh sugesti2 dan penafsiran2 yg menyimpang dari ajaran agama tersebut =)

      Delete
  16. tadi mau posting ke blog tapi liat didasbor ada postingan tentangan atheisme dari blog kamu ditunda dulu mau baca artikel ini dulu, hehe. saya suka pernyataan karl mark, kalo agama itu bgaikan narkoba, kenyataan dilapangan sih memang begitu:)

    ReplyDelete
  17. Selalu suka sama postingan om Keven :))

    Well, menurut ane orang atheist yang memberikan efek positif ke masyarakat/lingkungannya jauh lebih 'terpuji' ketimbang so-called-God-fans-club yang mendukung 'buta' Tuhannya tanpa memikirkan dampak negatifnya ke masyarakat/lingkungannya. Juga orang yang menganggap bahwa agama yang dipeluknya itu adalah yang paling benar.

    Agama itu benar, bagi pemeluknya selama mengajarkan kebaikan. Mau benar atau enggaknya itu akan dibuktikan di hari kiamat (gua ngomong gini karena agama gua bilang adanya hari kiamat), jadi misalkan penganut agama A bilang bahwa agamanya yang paling benar sedangkan di akhirat malah agama B yang benar-sebenar-benarnya. Lah gimana?

    *yang baru entah rada ngaco atau gimana om

    #CMIIW
    #IMHO

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itulah, ga akan ada yg tau sebelum saatnya tiba. Makanya gua bilang, yg namanya iman tuh taruhan. Bagaimana caranya lu mempercayai dan mengimani sesuatu yg tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara harafiah?

      Di saat itulah, yg namanya hati berperan...gua tidak men-Tuhan-kan agama gua, karena agama dan penafsirannya bisa aja salah. Tapi gua memegang teguh kepercayaan gua bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, dan inti utama ajaran dari semua agama mestinya sama...yaitu cinta kasih =)

      Delete
  18. Replies
    1. Tapi manusia bukan Tuhan, jadi ga bisa disamain =)
      Manusia butuh pegangan, entah agama, entah hati nurani, apapun, selama hal itu membuat manusia tersebut jadi lebih manusiawi dan penuh kasih...

      Delete
  19. seseorang pernah bilang ke aku kalau agama itu seperti candu. candu bagi kita manusia yang mengatasnamakan agama untuk melakukan hal sesuka hati kita

    aku pribadi tumbuh di keluarga Kristen, dan pernah ngerasain jadi mayoritas ataupun minoritas di beberapa daerah. di Indonesia yang mengakui 6 agama, perbedaan itu memang kadang jadi bumerang. di satu sisi dapat mempersatukan, tapi di sisi lain juga memisahkan. pendapat aku sih yaa semua agama itu sama, kita manusianya sama-sama diajarin kasih kepada sesama.

    dulu aku ngga nyangka kalau alasan atheis adalah ya karena pengikutnya, dulu aku kira karena banyak orang yang merasa konsep ke-Tuhanan tidak bisa diterima logika mereka, masalahnya adalah agama tidak sama dengan sains. Jangan pernah meyamakan iman dengan logika, karena iman adalah percaya dengan hati, tapi logika adalah percaya dengan bukti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Logika yg gua maksud di sini bukan berarti cuma percaya kalo ada bukti, tapi suatu kesadaran untuk membedakan baik dan tidak baik. Ajaran agama jaman sekarang banyak yg penafsirannya melenceng, agama malah dijadikan alat politik. Kalo misalnya pemuka agama kita nyuruh kita bunuh orang, apakah kita bakal lakuin?

      Orang yg punya hati dan juga logika tentu akan menolak...sementara mereka2 yg fanatik, beragama tanpa hati dan logika, akan langsung membabi-buta menyerbu bak sapi2 gila yg udah dicuci otaknya...=)

      Delete
  20. ada yang bilang tadi tuhan itu tuan, majikan, dan sahabat, berarti dengen anggapan seperti itu, kita mencoba mematerikan tuhan atau membuat tuhan menjadi hal yang berbentuk, sesuatu disebut majikan atau sahbata karena dia berbentuk, sedangkan hal yang disebut tuhan itu tanpa bentuk.

    jujur saya sendiri memang g suka dengan pewujudan atau penjabaran setiap agama tentang tuhan, karena apa, ketika tuhan itu dijabarkan, maka kebanyakan akan menjadi berfikir tentang bentuk tuhan, dan semakin berkhayal dengan bentuk tuhan itu, sudah biarin aja, tuhan itu sebagaimana adanya, sebagai yang tanpa bentuk,

    saya pernah baca teks kuno yang telah di terjemahkan, sebuah tulisan sastra tentang kepercayaan dan tentang tuhan ada sebuah kalimat yang membuat saya setuju tentang hal itu,
    " di sesuatu yang seperti ada namun juga seperti tiada, dia yang seperti tiada, namun seperti ada, dalam ada dan tiadanya dia, disana terletak kesempurnaan sejati dari pencarian sukma kita, biarkan dalam kebaradaan dan ketiadaannya dan kita akan menemukannya dalam percaya yang sejati"
    klo g salah seperti itu, dan itu yang saya percaya sampe sekrang, buku itu saya baca di perpus umum kota saya sendiri,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo lu belajar mengenai sejarah munculnya agama2 secara komprehensif, lu akan menemukan bahwa agama muncul karena usaha manusia mencoba mencitrakan "Tuhan" ke dalam sesuatu yg bisa mereka pahami...dan menurut gua itu ga salah karena melalui pemahaman secara kolektif itulah manusia dapat lebih merasakan "campur tangan" Tuhan di dalam kehidupannya.

      Yg salah adalah orang2 yg berusaha menafsirkan demi kepentingan pribadinya...bawa2 ajaran agama untuk kepentingan politik misalnya... Rakyat Indonesia banyak yg ga bisa baca kitab suci agamanya sendiri, jadi gampang terpengaruh oleh hasutan...

      Delete
  21. Hi Kep,
    cuma mau meluruskan satu hal aja, gue merasa lo lebih condong ngomongin soal Agnostic daripada atheist. Atheist adalah orang yang nggak percaya bahwa Tuhan ada, while Agnostic adalah orang yang percaya Tuhan ada dan ikut campur dalam hidup dia (kayak dreams come true dll) tapi nggak percaya sama agama.
    Gue nggak punya temen atheist (krn mnrt gue ini udah agak ekstrim, biasanya buat para scientist) tapi gue punya banyak temen agnostic. Percaya tuhan tapi nggak mengakui adanya agama, like you said, agama mengkotak2an orang.
    Trus aturan2 di dalam tempat ibadah atau agama kan yang bikin juga manusia, so orang2 agnostic nggak mau diatur sama manusia2 yang sok suci padahal hubungan dia dan tuhan kan urusan pribadi.
    Gue suka postingan lo yang ini kep. Trust me, I've seen so manyyyy hypocrite people yang mengatas nama kan agama. MUAK banget gue liatnya.

    ReplyDelete
  22. salah satu yang bikin mereka bertanya2 kemana tuhan adalah " banyak diluar sana yang mengaku beragama tetapi berkelakuan biadap".

    kalo menurut gue simple, agama ngga bisa disalahkan, yang disalahkan manusianya, kalu di mengerti dan menjalani agama yang dianutnya pasti akan beradap, sebaliknya kalau cuma anut-anutan diang tanpa memahami agamanya jadinya biadap.

    ReplyDelete
  23. Gue tertarik baca artikel, twit or apapun tentang atheisme.
    cara penuturannya juga macam-macam, mulai dari yang santun (seperti Anda Bertanya Atheis Menjawab), sedikit frontal (seperti @Agamajinasi) dll.

    dan dari semua tanggapan yang masuk, gue menyimpulkan kalau masih banyak orang yang berkacamata kuda sehingga tertutup terhadap suatu pemikiran yang bertentangan dengan pemahamannya dan menganggap negatif perbedaan itu

    gue merespon positif atheis dan pola pikirnya.
    buat gue, atheis nggak usah dianggap sebagai ancaman, tapi lebih sebagai cara memahami agama dari sudut pandang lain, ujung-ujungnya buat memperbaiki kualitas iman menjadi lebih dewasa menanggapi sesuatu hal.
    dalam hal ini gue setuju dengan postingan bang Psy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak..gak...gak...
      anak ingusan komennya tetap aja ingusan...hahaha

      Delete
  24. jadi ngebayangin spiderman hehe...btw, nama nya indopacific ya.

    ReplyDelete
  25. Its great and I like it so much. GHAIB/SURGA/NERAKA adalah sesuatu yang tidak αðά karena tidak dpt di buktikan! Kepercayaan dan keyakinan yang berlebihan atas sesuatu yang tidak bisa di buktikan kebenaran nya adalah KEBODOHAN yang nyata.

    ReplyDelete
  26. Bagi gw Tuhan itu adalah pengisi kekosongan yang tidak terjawab (atau belum terjawab) sains. Dahulu kala sewaktu manusia tidak tahu bagaimana terjadinya petir mereka mengarang cerita tentang dewa petir, dan dewa dewa lain untuk mengisi ketidaktahuan mereka. Seiring berkembangnya sains kepercayaan itu ditinggalkan. Manusia menciptakan sesosok yang begitu hebat yang melebihi daya pikir manusia saat itu. Mungkin manusialah yang menciptakan Tuhan bukan sebaliknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin juga, tapi siapa yg tahu dan bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada? Sulit kan menjawabnya? Karena itu, kembali lagi ke iman dan kepercayaan masing-masing. Mau percaya atau tidak percaya, itu terserah masing-masing individu. Tapi yg penting apa? Kita harus menghormati kepercayaan orang lain.

      Konyol banget kalo kita saling bermusuhan hanya gara-gara agama. Agama itu adalah sesuatu yg sangat pribadi, hubungan seorang manusia dengan pecipta-Nya, jadi seharusnya ga usah deh ngatur-ngatur orang laen untuk memeluk agama sesuai dengan kepercayaan kita pribadi =)

      Delete
  27. Hadew kenapa gw ngantuk baca tulisan ente ye?
    hahaha.........

    ReplyDelete
  28. Membaca tanpa meninggalkan komentar, ibarat buang air besar tanpa cebok.

    komentar saya: Tulisan anda : TIDAK BERMUTU BANGETTTTTTTTTTT !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seengganya gua dan orang orang yg telah berkomentar di atas telah berani menyatakan pandangan dan juga pendapatnya tanpa harus ngumpet di balik identitas anonim kayak lu =)

      Delete
  29. jika tuhan begitu sempurna dan manusia tidak sempurna,
    mengapa tuhan menciptakan semua ini? mengapa tuhan memerlukan kita?
    apakah kita diciptakan untuk menyembah kepadanya? tapi jika kita diciptakan untuk menyembah kepadanya,tidak mungkin ada agama sebanyak ini,,iyakan? berati ada banyak tuhan dong.
    ataukah karna ingin menunjukkan kepada kita begitu sempurnanya dia? berarti tuhan suka pamer dong,,tapi ituu tidak mungkin kan?
    ataukah tuhan menciptakan kita untuk menambah koleksi hambanya?

    tapi saya untuk saat ini percaya terhadap tuhan saya, meskipun saya belum tau kebenaran agama saya itu memang benar
    mohon bantuannya guys :)

    pd zaman dahulu banyak sekali terjadi bencana, dan ketika ada suatu benda yang mendominasi,makaa benda itu akan dianggap memiliki kekuatan dan benda itu yg akan disembah oleh mereka,
    begitu juga dengan kita, kita menyembah TUHAN kita karena alasan tertentu kan?
    saya menyembah ALLAH karena saya yakin bahwa ALLAH adalah segala-galanya dan sumber dari segalanya.
    begitu juga dengan kalian kan, kalian menyembah tuhan kalian karena alasan tetentu,Iiya kan?
    TAPI SEMUA ITU BERASAL DARI PEMIKIRAN KITA SENDIRI. APAKAH KITA SUDAH TERTIPU DENGAN PIKIRAN KITA SENDIRI?

    MOHON BANTUANNYA GUYS :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu hal yg gua pelajari dari pengalaman gua. Di saat memikirkan Tuhan, jangan pake logika, tapi pake hati. Tuhan itu adalah suara nurani yg hidup di dalam hati setiap manusia. Dan tentunya, tiap orang punya cara tersendiri dalam menanggapi suara hati tersebut, makanya kita tidak boleh menganggap diri kita adalah yg paling bener.

      Ada satu perumpamaan yg bercerita : Ada seorang ayah yg punya tiga orang anak. Suatu hari sang ayah memberi hadiah kepada tiga orang anaknya. Anak pertama sujud-sujud menyembah sang ayah, berterima kasih. Anak kedua tersenyum dan bilang terima kasih. Anak ketiga, ga berkata apa-apa, tapi kemudian besoknya dia bikinin sarapan pagi buat ayahnya. Tuhan itu bagaika sang ayah dan agama adalah cara kita menyembah dia, dalam hal ini adalah cara ketiga anak tersebut mengungkapkan rasa terima kasih kepada sang ayah. Cara mereka berbeda-beda, lantas, cara berterima kasih siapakah yg paling baik?

      Jawabannya adalah tidak ada, karena mau bagaimana pun caranya, tujuan mereka itu sama, yaitu berterima kasih. Dan mau bagaimana pun cara yg mereka pakai, tentunya sang ayah akan mengerti maksud sang anak. Seperti itulah harusnya kita beragama. Yg penting bukan gimana caranya, tapi selama agama itu memberi kebaikan di dalam hidup umat manusia, menjunjung perdamaian, dan tidak merugikan orang lain, agama itu tidaklah salah.

      Dan agama siapa yg paling baik? Agama siapa yg paling benar. Tidak ada, karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, plural, heterogen, jadi tidak mungkin apabila Dia hanya mengizinkan kita hanya menggunakan satu cara untuk menyembah Dia.

      Delete

Temen-temen yg ga punya blog atau account Google, tetap bisa komentar kok. Di bagian "Comment As" pilih "Name/URL", terus masukin nama dan email kamu, beres deh.

Satu-dua buah baris komentar yg sahabat tinggalkan merupakan sebuah apresiasi yg sangat besar artinya bagi sang penulis =)